Bahanafmngawi.com – Merosotnya harga telur ayam di tingkat peternak membuat usaha ayam petelur rakyat di Kabupaten Ngawi semakin tertekan. Ketidakseimbangan antara harga jual telur dan biaya pakan yang terus meningkat memaksa banyak peternak mengurangi jumlah ayam di kandang demi menekan kerugian.

Kondisi tersebut terjadi di Desa Ploso, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi. Sejumlah peternak bahkan memilih mengosongkan sebagian kandang karena pendapatan dari penjualan telur tidak lagi mampu menutup biaya produksi.

Salah seorang peternak, Sumarno, mengaku telah mengurangi populasi ayam hingga sekitar 60 persen. Dari kapasitas kandang sebanyak 3.000 ekor, kini hanya sekitar 1.000 ekor yang masih dipelihara.

“Kami tidak punya banyak pilihan. Harga telur masih berada di bawah biaya produksi, sementara harga pakan terus naik. Kalau dipaksakan mempertahankan populasi, kerugiannya justru semakin besar,” ungkap Sumarno, Jumat (3/7/2026).

Saat ini harga telur di tingkat peternak berkisar Rp19.000 per kilogram, hanya sedikit membaik setelah sebelumnya sempat turun hingga Rp18.700 per kilogram. Di sisi lain, harga pakan terus merangkak naik. Konsentrat 50 kilogram kini mencapai Rp455.000 per karung, sementara jagung dan bekatul sebagai bahan campuran pakan juga mengalami kenaikan harga.

Ketua Kelompok Unggas Mandiri Desa Ploso, Rokhim, mengatakan hampir seluruh peternak rakyat di wilayahnya merasakan dampak kondisi tersebut. Dari 43 peternak yang tergabung dalam kelompoknya, rata-rata populasi ayam kini hanya terisi sekitar 60–70 persen dari kapasitas kandang, jauh berkurang dibanding sebelumnya yang mencapai sekitar 90 persen.

“Persoalan utamanya ada pada biaya produksi yang terus meningkat, sedangkan harga telur belum kunjung pulih. Kondisi ini membuat peternak kesulitan mempertahankan usahanya,” jelas Rokhim.

Ia menambahkan, setiap satu kilogram telur membutuhkan sekitar dua hingga 2,1 kilogram pakan, sehingga kenaikan harga pakan sangat memengaruhi biaya produksi. Selain itu, telur juga tidak bisa disimpan terlalu lama karena bobotnya akan terus menyusut dan berdampak pada nilai jual.

Rokhim berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga telur dan memberikan perlindungan bagi peternak rakyat. Menurutnya, harga telur yang ideal di tingkat peternak berada di kisaran Rp20.800 per kilogram agar usaha ayam petelur tetap berjalan dan memberikan keuntungan yang layak.(Ehr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini