NGAWI – Tangis RD, bocah berusia lima tahun, pecah di kantor Pemadam Kebakaran (Damkar) Pemkab Ngawi, Kamis (3/9/2026). Bukan karena kebakaran, petugas justru harus berjibaku menyelamatkan jari telunjuk kanan bocah tersebut yang terjepit di lubang gesper sabuk sekolah.
Peristiwa bermula setelah RD pulang sekolah. Setibanya di rumah, bocah tersebut bermain di kamar hingga tanpa sengaja memasukkan jari telunjuknya ke salah satu lubang gesper berbahan besi tebal. Celakanya, jari yang sudah masuk justru tidak dapat ditarik kembali.
Sang ibu, Mita Kristiana (28), bersama suaminya, Mairul Adi, sempat mencoba berbagai cara untuk melepaskan jari RD. Baby oil digunakan agar jari lebih mudah ditarik, tetapi usaha tersebut belum membuahkan hasil.
“Awalnya kami coba sendiri dengan baby oil, berharap jarinya bisa keluar. Tapi ternyata tetap tidak bisa, malah kami khawatir kalau dipaksakan justru membuat jarinya terluka,” tutur Mita.
Karena kesulitan, Mita akhirnya meminta bantuan Damkar Ngawi. Ia bersama suaminya kemudian membawa RD ke kantor Damkar untuk mendapatkan penanganan petugas.
Setelah tiba, petugas segera memeriksa kondisi jari RD. Karena gesper terbuat dari besi cukup tebal dan posisinya menjepit jari, petugas memilih memotong bagian gesper menggunakan mesin gerinda mini.
Proses evakuasi dilakukan secara perlahan dan penuh kehati-hatian. RD terus menangis dan beberapa kali tampak ketakutan, sementara sang ibu memeluknya erat agar tetap tenang.
Sekitar 15 menit kemudian, bagian gesper yang menjepit berhasil dipotong. Jari telunjuk kanan RD akhirnya terbebas tanpa mengalami luka.
“Yang paling kami khawatirkan sebenarnya jarinya sampai terluka. Syukurlah setelah gesper dipotong, jarinya bisa langsung lepas dan kondisinya baik,” kata Mita lega.
Petugas Damkar Ngawi, Nur Rofik Mubarok, membenarkan adanya evakuasi tersebut. Menurutnya, pihaknya langsung memberikan bantuan setelah menerima laporan dari keluarga korban.
“Begitu mendapat laporan, kami arahkan keluarga membawa anak ke kantor Damkar agar proses pelepasan bisa dilakukan dengan peralatan yang sesuai,” ujar Rofik.
Ia menjelaskan, petugas harus ekstra hati-hati karena posisi besi gesper sangat dekat dengan jari korban. Untuk menghindari cedera, pemotongan dilakukan sedikit demi sedikit menggunakan gerinda mini.
“Kami harus memastikan saat besi dipotong, gerinda tidak mengenai jari korban. Setelah sekitar 15 menit, akhirnya gesper berhasil dilepaskan dan jari anak tersebut aman,” pungkasnya.






