Bahanafmngawi.com – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Soerjo Ngawi (BEMUNSOER) bersama Serikat BEM Se-Kabupaten Ngawi menyampaikan pernyataan sikap yang menyoroti kondisi demokrasi nasional serta kesejahteraan petani di Kabupaten Ngawi. Melalui pesan bertajuk “Indonesia Carut Marut – Ngawi Mawut”, mahasiswa menyampaikan keprihatinan terhadap berbagai persoalan yang dinilai semakin membebani masyarakat.
BEMUNSOER menyatakan turut berduka cita atas kondisi demokrasi yang dinilai mengalami kemunduran, sekaligus menyoroti kesejahteraan petani yang terdampak oleh alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi kawasan industri. Menurut mereka, perubahan fungsi lahan tanpa perlindungan yang memadai bagi petani berpotensi mengancam keberlanjutan sektor pertanian dan ketahanan pangan daerah.
Sementara itu, Serikat BEM Se-Kabupaten Ngawi turut menyampaikan kritik terhadap pemerintahan saat ini melalui pernyataan “Turut Berduka Cita Atas Gagalnya Rezim Saat Ini”. Mereka menilai berbagai persoalan nasional maupun daerah memerlukan perhatian dan penyelesaian yang lebih serius.
Pernyataan tersebut ditutup dengan kalimat berbahasa Jawa, “Mpun mboten saget sabar, saget e namung melawan,” yang menggambarkan sikap tegas mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi. Bagi mereka, aksi penyampaian pendapat di ruang publik menjadi salah satu bentuk perjuangan untuk mendorong perubahan kebijakan yang dinilai lebih berpihak kepada masyarakat, khususnya petani.
Melalui pernyataan sikap tersebut, BEMUNSOER dan Serikat BEM Se-Kabupaten Ngawi berharap pemerintah dapat membuka ruang dialog yang lebih luas, memperkuat perlindungan terhadap petani, serta menjaga iklim demokrasi agar aspirasi masyarakat dapat tersalurkan secara terbuka dan konstruktif.






