Bahanafmngawi.com –  Limbah peternakan sapi yang selama ini kerap menjadi sumber pencemaran lingkungan kini mulai dilirik sebagai potensi energi alternatif. Melalui inovasi GEMILANG (Gerakan Mengolah Limbah Ternak Menjadi Gas Ramah Lingkungan), Pemerintah Kabupaten Ngawi melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) berupaya mengubah kotoran sapi menjadi biogas yang bermanfaat bagi kebutuhan rumah tangga sekaligus menghasilkan pupuk organik.

Inovasi ini hadir sebagai solusi atas persoalan limbah peternakan yang selama ini berpotensi mencemari tanah, saluran drainase hingga sungai. Tumpukan kotoran sapi yang tidak dikelola juga menimbulkan bau tidak sedap serta menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ngawi, Dodi Aprilliasetia, mengatakan GEMILANG menjadi salah satu langkah nyata pemerintah daerah dalam mendorong pengelolaan limbah peternakan yang lebih produktif dan berwawasan lingkungan.

Menurutnya, peternak tidak seharusnya hanya memandang kotoran sapi sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi juga sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna dan manfaat ekonomi.

“Melalui GEMILANG, kami ingin mengubah kebiasaan pengelolaan limbah ternak. Kotoran sapi yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan bisa diolah menjadi biogas untuk kebutuhan energi sehari-hari, sedangkan sisa pengolahannya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik,” ungkapnya (03/11/2026)

Pelaksanaan inovasi GEMILANG dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari pemetaan peternak yang memenuhi persyaratan teknis, sosialisasi dan pelatihan pengoperasian instalasi biogas, hingga pembangunan reaktor atau digester beserta jaringan penyaluran gas ke kompor dan penerangan rumah. DLH juga melakukan pendampingan serta pemantauan berkala untuk memastikan instalasi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Dalam prosesnya, kotoran sapi dimasukkan ke dalam digester untuk difermentasi hingga menghasilkan gas metana yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Sementara itu, sisa fermentasi atau bio-slurry diolah menjadi pupuk organik cair yang mengandung unsur hara dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas pertanian.

Penerapan teknologi tersebut memberikan sejumlah manfaat bagi peternak. Selain membuat lingkungan kandang lebih bersih dan mengurangi bau, pemanfaatan biogas juga berpotensi menekan pengeluaran kebutuhan energi rumah tangga hingga 30–40 persen setiap bulan. Gas yang dihasilkan bahkan dapat digunakan untuk mengoperasikan kompor dua tungku dan penerangan rumah.

Secara keseluruhan, penerapan GEMILANG di lokasi peternak sasaran diklaim mampu menekan beban pencemaran lingkungan hingga 70–80 persen. Pengelolaan limbah melalui digester juga membantu mengurangi pelepasan gas metana, sekaligus mencegah kebiasaan membuang kotoran ternak ke saluran air maupun sungai.

Dodi menambahkan, keberhasilan inovasi ini tidak hanya diukur dari kemampuan menghasilkan energi alternatif, tetapi juga dari perubahan perilaku peternak dalam menjaga lingkungan.

“Kami berharap GEMILANG bisa menjadi gerakan berkelanjutan di kalangan peternak. Jadi, manfaatnya bukan hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga memberikan nilai tambah melalui penghematan energi dan pemanfaatan pupuk organik. Dengan begitu, peternak tetap produktif dan lingkungan juga lebih terjaga,” tambahnya.

Melalui GEMILANG, Pemkab Ngawi berupaya menghadirkan pengelolaan peternakan yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung pemanfaatan energi terbarukan. Limbah yang sebelumnya menjadi persoalan kini memiliki peluang menjadi sumber energi dan nilai ekonomi bagi masyarakat.(Ehr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini