Bahanafmngawi.com – Ancaman kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino mulai membayangi sektor pertanian tahun ini. Di tengah musim tanam kedua, petani di Kabupaten Ngawi diimbau mempercepat masa tanam sebagai langkah antisipasi penurunan produksi.
Pemerintah Kabupaten Ngawi menilai percepatan tanam menjadi strategi penting agar masa panen dapat berlangsung sebelum dampak kekeringan semakin terasa. Selain itu, kewaspadaan terhadap potensi berkurangnya pasokan air juga terus ditingkatkan, terutama di wilayah yang masih bergantung pada irigasi tadah hujan.
Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, menegaskan, “Percepatan tanam ini bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan, apalagi target kita tahun ini tetap surplus produksi.” (27/04/2026)
Tahun 2026, luas panen di Ngawi ditargetkan mencapai 169 ribu hektare. Angka tersebut menjadi tantangan tersendiri karena luas lahan baku sawah hanya sekitar 49 ribu hektare, sehingga optimalisasi musim tanam menjadi kunci.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah juga memetakan daerah rawan kekeringan serta mendorong pemanfaatan sumur pompa listrik atau electric for farm (elfarm). Di sisi lain, petani diimbau mulai menerapkan pertanian ramah lingkungan berkelanjutan agar produktivitas tetap terjaga.
Dengan berbagai upaya tersebut, Pemkab Ngawi berharap risiko gagal panen dapat ditekan dan posisi daerah sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Timur tetap terjaga.(Ehr)






