Bahanafmngawi.com – Alih fungsi lahan perlahan menggerus area persawahan di Kabupaten Ngawi. Sepanjang 2026, luas lahan baku sawah di daerah ini menyusut sekitar 45 hektare karena berubah menjadi kawasan permukiman dan industri.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Ngawi, luas lahan baku sawah yang sebelumnya mencapai 49.622 hektare pada 2025 kini tersisa 49.577 hektare.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DKPP Ngawi, M. Hasan Zunairi, menyebut angka tersebut merupakan hasil pembaruan data dari BPN Ngawi.

“Perubahan luas lahan ini memang terjadi karena adanya alih fungsi. Namun, yang penting produktivitas pertanian masih mampu dipertahankan,” jelas Hasan.(23/07/2026)

Menariknya, berkurangnya luas sawah belum membuat produksi padi Ngawi ikut merosot. Hingga akhir Juni 2026, produksi gabah kering giling (GKG) justru mencapai 380.423 ton.

Jumlah tersebut naik 23.192 ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 357.231 ton. Salah satu faktor pendukungnya adalah semakin banyak petani yang menerapkan sistem Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB).

“Produksi masih meningkat meskipun luas sawah berkurang. Karena itu, produktivitas lahan harus terus dijaga melalui penerapan pertanian yang berkelanjutan,” ujar Hasan.

Sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional, Kabupaten Ngawi terus mendapat perhatian pemerintah pusat. Pemerintah daerah juga memperkuat pemantauan lahan pertanian agar alih fungsi lahan tidak mengancam keberlanjutan produksi pangan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini