Bahanafmngawi.com  – Hama tikus masih menjadi ancaman serius bagi petani di wilayah Ngawi, terutama di bagian timur. Menyikapi hal ini, Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono menegaskan pentingnya penanggulangan tikus secara bertahap dan ramah lingkungan.

Menurut Ony, penggunaan pupuk organik berbasis mikroorganisme lokal, seperti campuran urin kambing dan kelinci, terbukti efektif. Sebaliknya, penggunaan pupuk kimia berlebih justru membuat batang padi menjadi manis dan menarik bagi tikus.

” Kalau pakai pupuk organik, batangnya seolah-olah pahit, jadi tikus enggan mendekat,” jelasnya.

Namun, Ony juga mengingatkan agar petani tidak tergiur hasil cepat dengan cara berbahaya. Salah satunya adalah pemasangan jebakan tikus menggunakan aliran listrik, yang marak terjadi karena harga gabah saat ini mencapai Rp7.500 per kilogram.

“Itu tidak diperbolehkan. Penyalahgunaan listrik bisa berakibat fatal,” tegasnya.

Ia mencontohkan kasus tragis di daerah Beran, di mana seorang petani meninggal akibat jebakan tikus beraliran listrik. Karena belum tentu tikusnya hilang, tapi nyawa petani justru melayang.

Bupati Ngawi mengajak para petani agar menahan diri dari keinginan mendapatkan hasil secara instan, dengan menekankan pentingnya proses bertahap, penggunaan pupuk organik, pengurangan ketergantungan pada pupuk kimia, serta menjaga konsistensi dalam bertani.(Ehr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini