Bahanafmngawi.com – Kabupaten Ngawi mencatat lonjakan produktivitas pertanian berkat penerapan sistem Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB). Seluruh petani yang tergabung dalam gabungan kelompok tani (Gapoktan) kini sepenuhnya mengandalkan metode ini untuk mengelola tanaman padi, bawang merah, hingga tembakau.

Inovasi ini bukan hal baru, salah satu contoh di Desa Jambangan. Kepala Desa Murdoko menyebut, PRLB sudah dijalankan sejak empat tahun lalu, dan kini membuahkan hasil yang menggembirakan.

 “ Penggunaan pupuk kimia sudah ditekan hingga 50 persen. Sebagai gantinya, kami mengoptimalkan pupuk kandang, kompos, dan pupuk hijau,” jelasnya, Senin (4/8).

Langkah ini tidak hanya menjaga kesuburan tanah, tapi juga menjadi solusi atas keterbatasan pupuk subsidi yang sering terjadi. Penerapan teknologi pertanian tepat guna (TTG) turut mempercepat proses kerja dan menekan biaya produksi.

Dukungan penuh datang dari Bupati Ngawi, Ony Anwar Harsono, yang menargetkan 25.000 hektare lahan di kabupaten tersebut akan menerapkan PRLB hingga akhir 2025.

“Saat ini sudah ada 22.000 hektare. Target kami, setengah dari total lahan pertanian Ngawi seluas 55.000 hektare bisa beralih ke PRLB tahun ini,” ungkapnya.

PRLB juga mengatur batas maksimal penggunaan pupuk sintetis sebesar 200 kg per hektare. Lebih dari itu, dinilai berlebihan dan merusak kualitas tanah dalam jangka panjang.

 “Kita ingin mengembalikan pertanian ke prinsip yang berkelanjutan, bukan mengejar hasil semata,” tegas Bupati.

Desa Jambangan kini menjadi contoh nyata bahwa pertanian ramah lingkungan bukan sekadar wacana, tapi solusi nyata untuk masa depan pangan yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan.(Ehr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini