Bahanafmngawi.com – Kesabaran warga Desa Selopuro, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi, benar-benar habis setelah puluhan tahun menanti janji perbaikan, alih-alih menyerah pada debu dan lumpur, mereka memilih aksi teatrikal yang mencolok yakni menancapkan pohon pisang tepat di tengah badan jalan desa sepanjang 750 meter yang rusak parah. Aksi unik ini adalah seruan protes keras karena infrastruktur vital tersebut belum tersentuh perbaikan.
Jalur ini bukan sembarang jalan. Ia adalah urat nadi alternatif yang menghubungkan Provinsi Jawa Timur dan Blora, Jawa Tengah. Setiap hari, tak hanya menjadi akses utama warga, jalan ini juga dibebani lalu lintas truk padat pengangkut tebu, terutama saat musim giling.
Agil Setyo Nugroho salah satu warga menambahkan, kondisi jalan berubah menjadi ‘kubangan’ yang memprihatinkan saat musim hujan, di mana lubang besar dan lumpur kerap pekat mempengaruhi kendaraan yang lewat.
” Sudah lama rusak tapi tidak juga diperbaiki. Warga hanya sering diberi janji tanpa realisasi,” keluh Agil
Kepala Desa Selopuro, Sunarno , membenarkan bahwa permohonan perbaikan telah lama diajukan ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan bahkan telah masuk daftar bantuan. Namun, ia mengakui hingga kini statusnya masih belum terealisasi.
Melihat lambatnya respon pemerintah, pihak desa bersama BPD kini mulai berhitung untuk mencari solusi mandiri. Mereka berencana menganggarkan perbaikan menggunakan Dana Desa pada tahun 2026.
Menariknya, warga Selopuro juga telah berinisiatif mengelola dana perbaikan dari lalu lintas truk tebu. Setiap truk yang melintas dikenakan iuran Rp10.000. Dengan rata-rata Seratus truk per hari saat musim giling, dana ini dikelola langsung oleh masyarakat sebagai langkah darurat.Warga berharap, aksi ‘tanam pisang’ ini menjadi alarm keras bagi pemerintah provinsi. Kerusakan jalan, selain menghambat perekonomian, kini menjadi ancaman keselamatan yang bisa memicu kecelakaan.(Ehr)





