Bahanafmngawi.com – Mempertahankan sebuah komunitas seni independen di tengah gempuran era digital instan bukanlah hal mudah. Namun, Aksi Cinta Indonesia (ACI) membuktikan bahwa konsistensi adalah kunci. Merayakan ulang tahun kelimanya, ACI menggelar perhelatan bertajuk “Pancawarsa”, sebuah pameran dan konser yang bukan sekadar selebrasi, tapi pernyataan sikap tentang pentingnya proses dalam berkarya.
Acara yang digelar di Wisma Jerman, Surabaya, Sabtu (6/12/2025) ini menjadi milestone penting bagi ekosistem kreatif anak muda Jawa Timur.
Pancawarsa: Lebih dari Sekadar Panggung Hiburan
Mengapa tajuknya “Pancawarsa”? Dalam bahasa Sanskerta, Panca berarti lima dan Warsa berarti tahun. Pemilihan diksi ini menegaskan filosofi ACI yang mendalam: lima tahun bukan waktu yang singkat untuk membentuk karakter.
Berbeda dengan pentas seni sekolah biasa, Pancawarsa menyuguhkan kolaborasi lintas disiplin yang matang:
- Konser Musik: Penampilan vokal grup SwaraKita, yang dikenal dengan aransemen vokal harmonis dan teknik performance yang disiplin.
- Pameran Visual: Menampilkan karya hasil program Arek Surabaya Berkarya – Goes to School, sebuah inisiatif edukasi yang telah berjalan masif sejak 2024.
Mengapa Wisma Jerman?
Pemilihan venue di Wisma Jerman menarik untuk dikritisi secara positif. Ini bukan sekadar soal sewa tempat. Wisma Jerman dikenal sebagai pusat kebudayaan yang menjunjung tinggi pertukaran ilmu dan kedisiplinan.
Kolaborasi ACI dengan institusi internasional ini memberikan sinyal edukatif kepada para anggotanya (yang mayoritas anak-anak dan remaja) bahwa karya lokal mereka memiliki standar dan apresiasi global. Ini adalah bentuk soft-diplomacy budaya yang brilian dari sebuah komunitas lokal.
Transformasi Digital ke Panggung Nyata
Salah satu poin paling krusial dalam perjalanan 5 tahun ACI adalah adaptabilitas. Naomi Olivia, salah satu anggota Generasi 1 ACI, menyoroti tantangan besar transisi dari era pandemi ke pasca-pandemi.
“Tantangan terbesar kami adalah mentalitas. Dulu kami berproses secara daring (online), nyaman di balik layar. Kini, kami harus menghadapi audiens nyata secara luring (offline). ACI bukan sekadar tempat menyanyi, tapi kawah candradimuka untuk membentuk mental petarung,” ungkap Naomi.
Pernyataan ini valid. Di era di mana Gen Z dan Alpha sering dituduh bermental “stroberi” (lunak), ACI justru mendorong anggotanya untuk keluar dari zona nyaman melalui seni pertunjukan yang menuntut keberanian fisik dan mental.
Pendidikan Karakter Berbasis “Zero to Hero”
Nilai jual utama ACI yang membedakannya dari sanggar seni lain adalah filosofi inclusivity dan process-oriented. Tidak harus jago dulu baru boleh gabung. ACI menekankan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang kemampuan awal, berhak mendapatkan panggung asalkan mau menjalani proses.
Program-program mereka, mulai dari vocal workshop hingga teater musikal, dirancang untuk melatih:
- Confidence (Kepercayaan Diri)
- Teamwork (Kerjasama Tim dalam harmoni suara/gerak)
- Empathy (Melalui lagu-lagu bertema kebangsaan dan kemanusiaan)
Kesimpulan: Aset Berharga Surabaya
Lima tahun ACI adalah bukti bahwa Surabaya tidak kekurangan talenta. “Pancawarsa” adalah pengingat bagi para orang tua, pendidik, dan pemangku kebijakan di Jawa Timur bahwa pendidikan karakter tidak melulu terjadi di ruang kelas, tetapi juga di atas panggung seni yang dikelola dengan hati dan profesionalisme.(RFF)






