Bahanafmngawi.com – Ajang bergengsi tenis internasional ITF Widjojo Soejono kembali digelar untuk ke-42 kalinya, menunjukkan komitmen Jawa Timur dalam pembinaan atlet tenis junior. Turnamen ini menjadi barometer penting bagi perkembangan atlet muda nasional, sekaligus menarik perhatian internasional dengan partisipasi 20 negara.
Dalam wawancara eksklusif, Pak Ismed (sebutan dalam rekaman) menyampaikan beberapa poin utama terkait pelaksanaan turnamen tahun ini, mulai dari peningkatan jumlah atlet hingga tantangan infrastruktur yang masih membayangi.
Peningkatan Partisipasi Atlet dan Skala Internasional
Secara umum, ITF Widjojo Soejono ke-42 menunjukkan peningkatan dalam aspek kuantitas dan kualitas.
- Peningkatan Atlet Nasional: Jumlah atlet yang berpartisipasi tahun ini mencapai 550, sebuah indikasi adanya penambahan dari tahun ke tahun. Ini mencakup kategori nasional U-8 hingga U-16.
- Partisipasi Internasional: Turnamen kategori junior internasional ini berhasil menarik kehadiran atlet dari 20 negara. Meskipun jumlah negara yang berpartisipasi sedikit menurun dari tahun-tahun sebelumnya, jumlah total atlet junior internasional yang diakomodasi tetap ideal di angka 120. Angka ini disiapkan untuk memastikan proses kualifikasi, penyisihan, dan final dapat berjalan maksimal.
Misi Pembinaan Berjenjang: Dari Nasional ke Internasional
ITF Widjojo Soejono tidak hanya sekadar kompetisi, melainkan bagian dari skema pembinaan berjenjang yang ketat.
Pak Ismed menekankan harapan agar atlet yang berkompetisi di kategori nasional U-8 hingga U-16 dapat terus berkembang. Tujuannya adalah agar atlet yang mencapai usia 16 tahun sudah mampu bersaing di level turnamen internasional, dan pada usia 18 tahun dapat semakin matang di kancah global.
Program pembinaan ini sangat penting mengingat Jawa Timur dikenal sebagai salah satu lumbung atlet tenis berprestasi. Nama-nama seperti Jenis Jen dan Adila (disebutkan dalam wawancara), yang merupakan jebolan dari pembinaan di Jawa Timur, telah membuktikan kualitasnya di turnamen tenis internasional.
Tantangan Infrastruktur dan Harapan Sinergi Pemerintah
Di balik suksesnya penyelenggaraan turnamen, Jawa Timur masih menghadapi isu krusial terkait fasilitas dan lapangan tenis yang representatif.
“Jumlah lapangan memang belum nambah, bahkan ada venue yang berkurang karena menjadi cabor yang lain,” ujar Pak Ismed. Tantangan ini sering kali menyebabkan kesulitan dalam mencari lokasi latihan yang memadai.
Untuk mengatasi hal ini, PELTI (Pengurus Provinsi) berharap adanya sinergi dan dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk KONI, Pemerintah Daerah (Pemda), dan Pemerintah Provinsi.
Harapan ini mulai menampakkan hasil positif melalui pendekatan ke daerah-daerah: - Dukungan Pemda: Beberapa kabupaten dan kota telah menunjukkan komitmen untuk men-support pembangunan lapangan. Ada kabupaten yang semula belum punya lapangan, kini dijanjikan akan ada lapangan oleh Pemerintah Daerah.
- Insentif Prestasi: Prestasi atlet di ajang Porprov (Pekan Olahraga Provinsi) yang berhasil meraih medali (perunggu, perak, dan emas) juga menjadi dorongan. Capaian ini menjadi catatan penting bagi Pemda masing-masing untuk membantu dalam pengadaan lapangan sebagai apresiasi dan dukungan terhadap pembinaan.
Dukungan sinergis dari semua pihak ini sangat diharapkan agar pembinaan atlet tenis di Jawa Timur dapat terus optimal, menghasilkan talenta-talenta kelas dunia, dan terus mengukuhkan posisi ITF Widjojo Soejono sebagai salah satu event tenis junior paling bergengsi di Asia Tenggara. (RFF)






