Bahanafmngawi.com – Sejumlah petani di Kabupaten Ngawi dibuat resah setelah tanaman padi yang semula tumbuh normal justru mendadak kerdil usai dilakukan pemupukan. Kondisi tersebut terjadi di hampir seluruh kecamatan, meski luas lahan yang terdampak masih di bawah 3 persen dari total areal tanam.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DKPP) Kabupaten Ngawi, Muh Hasan Zainuri, menyebut gejala biasanya mulai terlihat setelah tanaman berusia sekitar 30 hari. Sebelum dipupuk, pertumbuhan padi berlangsung normal, namun kemudian melambat dan tidak berkembang sebagaimana mestinya.

“Fenomena ini banyak ditemukan di berbagai wilayah. Tanaman yang awalnya tumbuh baik justru mengalami hambatan setelah pemupukan, terutama pada lahan dengan kondisi tanah yang kurang sehat,” ujar Hasan, Rabu (15/7/2026).

Menurutnya, persoalan tersebut lebih banyak muncul di lahan yang belum menerapkan konsep Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB). Penurunan kualitas tanah membuat tanaman lebih rentan terhadap jamur dan virus, sementara unsur hara dari pupuk tidak dapat diserap secara optimal.

Hasan menjelaskan, penggunaan pupuk kimia tanpa didahului perbaikan kondisi tanah dapat memperparah gangguan pertumbuhan. Selain itu, penggunaan herbisida secara berlebihan juga berpotensi mengganggu keseimbangan mikroorganisme yang berperan menjaga kesuburan tanah.

“Tanah perlu dipulihkan terlebih dahulu sebelum dipacu dengan pupuk. Kalau kondisi tanahnya belum siap, tanaman justru bisa mengalami stres dan pertumbuhannya terganggu,” jelasnya.

DKPP mendorong petani menggunakan bubur California, dolomit, serta bahan pembenah tanah lainnya saat proses pengolahan lahan. Tingkat keasaman tanah juga menjadi perhatian karena pemupukan idealnya dilakukan ketika pH tanah berada di kisaran 5 hingga 6. Sementara pada sejumlah lahan, pH masih berada di angka sekitar 4.

“Jangan terburu-buru melakukan pemupukan ketika tanah masih terlalu asam. Perbaikan kondisi tanah bisa dilakukan terlebih dahulu, kemudian pemupukan dilanjutkan setelah pH lebih sesuai,” katanya.

Meski demikian, DKPP memastikan fenomena tanaman padi kerdil tersebut belum berdampak pada gagal panen secara luas. Penanganan dilakukan melalui perbaikan teknik budidaya, termasuk penyaluran sekitar 300 liter bubur California ke sejumlah wilayah terdampak.(Ehr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini