Bahanafmngawi.com – Arus keberangkatan warga Kabupaten Ngawi ke luar negeri sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) kian melambat. Fenomena ini terjadi seiring meningkatnya geliat industri di daerah, yang kini menjadi magnet baru bagi pencari kerja lokal.
Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (DPPTK) Kabupaten Ngawi mencatat, pada tahun 2024 terdapat sekitar 1.600 warga yang memilih bekerja di luar negeri. Namun angka tersebut menyusut pada tahun 2025. Hingga 15 Desember, jumlah PMI asal Ngawi tercatat hanya sekitar 1.200 orang.
Kepala Bidang Tenaga Kerja DPPTK Ngawi, Supriyadi, menyebut menurunnya minat bekerja ke luar negeri tidak lepas dari bertambahnya investasi industri di wilayah setempat.
“Sekarang lapangan kerja di Ngawi semakin terbuka, jadi masyarakat tidak lagi harus mencari pekerjaan ke luar negeri,” kata Supriyadi.
Ia menjelaskan, selama ini mayoritas PMI asal Ngawi bekerja di sektor informal dengan tujuan utama Taiwan, Hongkong, Malaysia, serta beberapa negara di kawasan Timur Tengah. Namun sejak akhir 2024, situasi ketenagakerjaan mulai bergeser.
Sejumlah industri baru seperti pabrik sepatu, pabrik mainan, dan garmen telah beroperasi dan menyerap ribuan tenaga kerja.
“Perusahaan-perusahaan ini mengutamakan warga lokal sebagai tenaga kerja,” ujarnya.
Kesempatan kerja yang lebih dekat dengan rumah, pendapatan yang relatif stabil, serta kenyamanan bekerja di lingkungan sendiri menjadi alasan kuat masyarakat memilih bertahan di Ngawi.
Meski demikian, DPPTK Ngawi tetap mengingatkan bahwa bekerja ke luar negeri masih menjadi pilihan sebagian warga. (Ehr)






